Pohon Damar

Pohon damar (Agathis dammara (Lamb.) Rich.) adalah sejenis pohon anggota tumbuhan runjung (Gymnospermae) yang merupakan tumbuhan asli Indonesia. Damar menyebar di Maluku, Sulawesi, hingga ke Filipina (Palawan dan Samar).
Nama damar sendiri diambil karena pohon ini memproduksi kopla (getah) atau yang biasa kita sebut dengan “damar”. Di Jawa, tumbuhan ini dibudidayakan untuk diambil getah atau hars-nya. Getah damar ini diolah untuk dijadikan kopal (hasil olahan getah atau resin yang disadap dari batang damar). Nama kopal berarti juga “dupa” atau “setanggi”. Getah akan mengalir keluar dan membeku setelah kena udara beberapa waktu lamanya. Lama-kelamaan getah ini akan mengeras dan dapat dipanen; yang dikenal sebagai kopal sadapan. Kegunaan getah damar antara lain sebagai bahan korek api, plastik, plester, vernis, lak, tinta cetak dan pelapis tekstil.
Pohon damar juga disukai sebagai tumbuhan peneduh taman dan tepi jalan (misalnya di sepanjang Jalan Dago, Bandung). Tajuknya tegak meninggi dengan percabangan yang tidak terlalu lebar. Pohon Damar yang berada dilingkungan Situ Gunung, telah ditanam oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar 80 tahun yang lalu. Pohon-pohon tersebut tampak menjulang dengan batang yang besar.

Kisah Wanita Penderes Damar . (Jefri Tarigan. Fotokita.Net)
Di Kabupaten Lampung Barat, banyak terdapat perkebunan Damar. Tercatat tidak kurang dari 17 ribu hektare hutan damar membentang di Lampung Barat. Damar adalah salah satu komoditi terbesar di Lampung, bahkan terbesar di Indonesia. Getah damar jadi komoditas unggulan Lampung dari hasil hutan bukan kayu.

Masyarakat Lampung Barat rata-rata bekerja sebagai penyadap getah damar. Mereka mencari getah damar dengan memanjat pohonnya yang tingginya bisa mencapai 20 meter. Pekerjaan menyadap getah damar atau dikenal juga dengan penderes damar ini juga tak hanya digeluti para lelaki, tetapi juga kaum wanita.

Para kaum hawa tak canggung dalam melakukan pekerjaan yang sejatinya dikerjakan kaum pria. Dengan menggunakan rotan kayu yang diikiat ke pohon dan badannya mereka memanjat pohon damar. Lubang-lubang yang ada di pohon damar digunakan untuk pijakan mereka naik ke puncak pohon.

Tanpa alat pengaman tambahan, mereka terus memanjat demi mendapat rupiah dari butiran-butiran getah damar. Setelah sampai di puncak, bukan berarti pekerjaan selesai. Mereka harus mengorek damar dengan bentuk segitiga-segitiga kecil. Dari korekan-korekan itu akan keluar getah. Namun mereka harus menunggu setidaknya dua pekan agar getah kering.

Pencari getah tidak hanya berisiko luka akibat jatuh, namun juga risiko maut. Apalagi tidak sedikit para pencari getah yang berusia renta. Jatuh dari ketinggian sekitar lima meter sudah lumrah bagi wanita penderes damar. Namun tak ada kata menyerah yang keluar dari perempuan-perempuan kuat tersebut.

Sayang, jerih payah perempuan penyadap damar yang penuh risiko hanya dihargai dengan rupiah yang nominalnya kecil. Namun buat mereka itu lebih baik daripada berdiam diri di rumah. Mereka membuktikan wanita bukan makhluk yang lemah. Wanita perkasa. Julukan ini mungkin tepat untuk kaum hawa di Lampung Barat yang berprofesi sebagai penderes damar.